inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah berpulang ke rahmatullah
Pak Sadah, yang biasa pagi-pagi
Pergi ke sawah
Bukan sawah miliknya,
Tapi tidak mengeluh beliau bekerja
Putri-putrinya pergi, setelah tahu aroma lelaki

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah berpulang ke pangkuan Allah
Mbok Sekar, yang dengan terbungkuk
Menggendong kayu bakar
Untuk dijual ke pasar
Walau jarang ada yang beli
Tetap beliau pergi,
Cucu-cucunya dengan lapar menanti

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah mendahului kita
Pak Karman, yang kalau berjalan
Selalu menundukkan pandang
Gubuk dan tanah sepetak miliknya
Telah diambil paksa
Karena utang anak bungsunya
yang suka judi bola, kalah pula

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Subuh tadi, telah meninggal dunia
Bu Sri, dua puluh tahun mengabdi
Menjadi guru honorer
Di salah satu sekolah dasar
Di ujung desa
Dengan gaji yang segitu saja
Untuk makan, harus ngutang
Tanpa pamrih
Senyum manisnya, cerminan harapan
Agar anak kampung memiliki masa depan

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Adalah kabar gembira
Bagi sebagian mereka
Sudah cukup sabar berjalan di dunia
Menjemput janji Allah

Advertisements

Di hati yang gersang ini,

Di hati yang gersang ini,
tumbuh subur bunga-bunga puisi.

Di hati yang gersang ini,
belatung, lintah, kalajengking beranak pinak.

Di hati yang penuh dendam ini,
lagu sindir dan melawan berdengung tiada henti.

Di hati yang penuh muslihat ini,
kata-kata kotor sering menjual diri.
Kata-kata indah dan penuh kias
Hanya milik mereka yang sudah merasa puas
dan hidup tanpa was was

Di perut yang kosong ini,
nafsu dan doa sering berkelahi.

Di perut yang kosong ini,
sering hanya terisi rasa prihatin
atas kekosongan perut yang lain

Di perut yang kosong ini,
menyeret hidup hanya bermodal yakin
Tujuan hidup bukan kaya apalagi miskin
Tapi runtuhnya tembok kesenjangan
yang semakin hari makin panjang.

Generasi Baru

Saat generasi baru melihat seorang yang tidak miskin tapi kelaparan.
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat generasi baru memberikan kepada yang lapar nasi terakhir yang mereka miliki.
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat generasi baru menyisihkan uang terakhir yang mereka miliki untuk kemiskinan dan ketertindasan.
Generasi tua bersiap-siaplah !

Saat generasi baru mulai melukis tentang kemanusiaan dan kejengahan akan kesewenangan.
Generasi tua bersiap-siaplah !

Saat generasi baru mulai menyanyikan sarkasme atas kehidupan yang mapan.
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat generasi baru mulai lupa bau emas dan uang.
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat generasi baru mulai bangga dengan generasinya, bukan karena ketidak-tahuan penguasa melainkan karena ketidak-pedulian.
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat itu,

Saat generasi baru tidak mau lagi mendengar ‘nasihat’ generasi tua negerinya, karena sejarah sudah berbelok atau dibelokkan.

Aku Ingin Merasakan Matahari

Walau resah tak kunjung hilang

Aku ingin merasakan terik matahari
Sebelum aku bisa merasakannya lagi
Juga agar aku bisa mencintai negeriku
Tanpa mengeluh

Aku ingin merasakan terik matahari
Yang paling panas sekalipun
Agar aku selalu mawas diri
Bahwa neraka akannya lebih panas tanpa ampun

Aku ingin merasakan terik matahari
Walau akhir-akhir ini hujan tak sebentar berhenti
Agar aku dapat merasakan penyesalan
Jika terus memaki keadaan dan menyalahkan Tuhan

Segala sesuatu yang ada di dunia pastilah memiliki bayang, sisi gelap. Kecuali cahaya dan bayang itu sendiri.

Manusia adalah mata pisau di antara cahaya dan bayang itu. Apakah pisau itu untuk membunuh atau menolong ?
Bahkan yang paling suci pun akan kotor di tangan si kotor & yang paling kotor akan suci di tangan si suci. Tidak ada kemustahilan selama ada kehidupan. Dengan waktu Tuhan memberi kesempatan dan keajaiban.

Seperti setiap terbangun ku dari tidur, yang kulihat di depan mata dan kurasa di dalam batin adalah peperangan, antara cahaya dan bayang itu, antara kedamaian dan kejahatan. Apakah hari itu aku memutuskan mengikuti setan atau perintah Tuhan ?

Seperti ini,…

Tidur adalah perjalanan menuju bayang dan terbangun adalah perjalanan menuju cahaya. Tapi entah mengapa tidur selalu membawa kedamaian. Sedang ‘terbangun’ yang terhampar adalah carut marut, bahwa kenyataan memang lebih menyakitkan. Seperti perumpamaan bahwa untuk menjadi jahat sangatlah mudah dan menyenangkan, sedang menjadi baik akan terasa sangat berat di setiap langkahnya.

Apalah guna agama selain pedoman manusia dalam perjalanan menuju kematian, dan yang sering disalah artikan dan fungsikan.

Semakin dewasa diri, semakin mawas diri, semakin gelisah diri. Jika ada berkata bahwa aku adalah orang kiri, aku tidak bisa mengelak.

Gelisah tentang kehidupan ini tidak bisa hilang. Tapi aku tak mau jika serta merta kau menghakimiku seorang komunis.

Jika atas dasar bahwa orang yang selalu gelisah dan tidak bahagia adalah seorang komunis. Berbanggalah mereka yang komunis, karena……pikir mereka kematian lebih mulia, lebih damai. Bahwa memang yang dituju oleh yang hidup adalah kematian.

Bukan saja bagaimana kita hidup, tapi lebih pada bagaimana kita mati. Mungkin itu yang diresahkan orang-orang komunis. Mungkin.

Adakah ideologi atau aliran di dunia ini yang tidak berlandaskan kemanusiaan ?

“Tidak ada orang malas yang kenyang, juga tak ada yang bekerja keras lalu kelaparan.
Manusia menuai apa yang telah ia sendiri tanam.”

Sebagai contoh adalah komunis, yang telah dimusuhi sejarah, oleh musuhnya juga oleh anak kandungnya sendiri.

Selayaknya komunis lahir dari mimpi yang mulia, ketika kesewenangan yang berkuasa membabi-buta, memperkaya diri-sendiri dengan cara memiskinkan yang lain.

Komunis tumbuh tidak hanya bersama mereka kaum miskin yang ingin merdeka dari kuasa yang asal main rebut dan klaim, juga bersama mereka yang tidak mau melihat kesenjangan yang begitu menikam ke bawah.

Komunis tumbuh di antara mereka yang dianggap sampah, atau lebih tepatnya tidak dianggap.

“Biar saja mati kelaparan, mati dalam diam.”

Jika bau busuknya sudah dirasa mencemari, dikuburlah sampah itu, beserta sampah-sampah lain di sekelilingnya.

Tapi sejatinya semakin dalam sampah dikubur, semakin subur pula tanah di atasnya.

Seperti itulah komunis tumbuh. Mati untuk menumbuhkan bunga.

Tapi sering kali bunga-bunga itu lupa kepada sampah yang menumbuhkannya. Selayaknya komunis tidak memaksa seorang manusia meninggalkan agamanya, tidak memeras keringatnya, tidak membunuh yang tidak sealiran.

“Kebanyakan dari bunga-bunga itu lupa akan mimpi komunis yang sebenarnya. Karena menjadi memang penguasa egois lebih dari menyenangkan.”