Menuju Akhir.

Perih, rasa sakit yang dia rasa
karena hingar mulutnya,
tembok dingin di dalam sana
mengurung maafnya
untuk hal yang anggapnya fana,
siapa yang harus disalahkan ?

Sedari awal sudah tak ada niatan
memohon ampun,
siapa pun
tidak akan sanggup mengobati hati fir’aun.

Terbukalah…
selamatkan dirimu, sedikit lagi
nafasmu telah diburu,
jangan biarkan !

Terbukalah…
pintu berkusen indah di depanmu,
jangan terlalu banyak memberi pengorbanan !

Terbukalah…
lihat kedua mataku,
detik terakhir hidupku,
di atas pangkuanmu.

di sisi lain,
suara kerumunan perlahan hilang,
menggoyahkan iman,
hilang semua rasa.

Perlahan akan diketahui,
dia melihatnya sendiri,
hati dari semua hati,
kemudian sang Maha tahu
memberinya kebebasan.

Advertisements