Bayang –

bayang mata membiru haru,
sudah terlihat bahwa
dengan sengaja dirimu
menyudutkan mereka
yang selama ini tak berdaya
tidur beralas papan dingin kesombonganmu,
tak diupah kecuali hidup mereka terenggut.

Bayang – bayang suara mendekat,
melolong, membekukan tulang
di bawah gerigi dan lidahmu yang
busuk, bernanah, berkarat.
Muak mereka meradang,
berlari mereka keluar
menuruni bukit belukar.
Penuh luka, perasaan rusak terbakar.

Terlambat bagimu,
bayang – bayang kesadaran
buah dari kesabaran,
perlahan
menggorok lehermu
malam itu.
Mungkin skenario tuhan
atau sudah ditetapkan.
Bukan mimpi yang indah bukan ?
Berat hatimu
membutakan matamu.

Bayang – bayang membunuhmu,
dunia memudar di sekelilingmu
mencabik harga dan dirimu.
Terhempas kau di neraka,
terbakar kau oleh tulang-tulang mereka.

Bayang – bayang cahaya dan
ketakutan hilang
dari hati mereka.
Beberapa memilih tumbang
lainnya berdiri menantang, berjuang.

Akhir dari apa yang engkau mulai.

Advertisements