Antara perang & kedamaian.

“komandan itu mau beri aku obat jika aku tidur dengannya.”

“Biarlah ibuku mati saja.”

“Damai hanya milik surga, dunia kurang layak menyandangnya.”

Pelacur-pelacur saat & setelah perang.
Wanita-wanita yang dirampas, diremas kemudian dibuang.
Curahan hati mereka kepada setiap lalat pejantan.
Hinggap bagai diare di telinga para istri.

Lihatlah mereka tembok-tembok lugu !
Para penjantan dengan nafsu menggebu,
menggerayangi dada sampai kemaluannya,
menyesal karena dilahirkan dengan dua tangan saja.

“Percuma!”

Walau sudah ia jual tubuhnya
kepada setiap kemaluan para komandan,
dokter berkata bahwa ibunya telah mati sejak kemarin malam.

Perang, penyakit & kematian.
Akan datang dengan ‘kapan’.
Bahkan manusia yang paling damai hidupnya pun,
selalu diiringi dengan ‘kapan’.

Advertisements