Bocah-bocah, Puing-puing

Lihatlah bocah-bocah korban perang itu!

Sisa hujan bom semalam memporak-porandakan segalanya, tidak ada lagi tembok yang benar-benar utuh, atapnya apalagi.

Tanpa dosa dan iba, matahari terbit seperti biasa. Satu persatu, perdua, pertiga, oh tidak….., seperdelapan penduduk yang masih bernyawa keluar dari persembunyiannya. Entah dimana mereka bersembunyi, mungkin di dalam barak bawah tanah yang sudah mereka siapkan sebelum perang atau mungkin di dalam kuburan tepat di samping mayat nenek moyangnya atau yang lebih masuk akal mereka bersembunyi di tempat-tempat peribadatan yang anehnya menjadi satu-satunya bangunan yang masih berdiri wajar diantara puing-puing lainnya. Percayalah, di masa perang tempat peribadatan akan lebih ramai pengunjung dibanding hari-hari damai lainnya.

“Menjelaskan bahwa pelindung paling kokoh diantara yang paling kokoh, gedung putih misalnya, adalah doa dan hati yang tulus dari manusia itu sendiri.”

Lihatlah tatapan mata bocah-bocah itu! Tenang tetapi tidak bisa dikatakan lugu.

Mereka tahu bahwa saat ini ayah, ibu atau kerabat mereka sedang menangis, mengkais puing-puing, mencari sanak, mencari harapan, mencari Tuhan.

Mereka tahu bahwa hari ini, besok atau lusa nanti gelar yatim juga piatu akan menghiasi hidup mereka.

Bukan kematian yang menjemput mereka melainkan kehidupan yang membimbing mereka menuju kematian itu.

Bukankah semua manusia pada akhirnya pasti mati?” Begitu bisik sang kehidupan ke telinga bocah-bocah itu.

Surga sangatlah damai dan sentosa, tiada perang, tiada pemenang ataupun pecundang.”

“Tapi ingatlah nak, yang hidup sering salah pengertian!”

“Mereka menganggap bahwa surga telah dijanjikan oleh Tuhan bagaimanapun kehidupan mereka di dunia. Mereka selalu memaklumi dosa karena kata mereka Tuhan maha pengampun, sedang mereka masih melakukan dosa itu, sedang mereka sangat takut menghadapi kematian.”

“Surga hanya untuk mereka yang tidak takut menghadapi kematian.”

Advertisements