Dan senyaman diskusi, adalah dengan pemikiranku sendiri, dengan sederet tulisan yang tak sanggup menyela.

Sejak dulu, bumi selalu gaduh.
Mereka yang mengatai saudara yang seiman dengannya ‘kafir’, bisa jadi lebih kafir dari anak setan sekalipun.
Saling mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berhak menghuni surga,
dan memang surga terlalu dan selalu sempit di mata mereka.

Apakah masih perlu sebuah perumpamaan untuk menjelaskan?
Yang ada hanyalah orang yang takut meyakini bahwa dirinya pasti mati.

Saat aku mendengar kegaduhan , jerit dan teriakan mereka.
Layaknya kejujuran, selalu dan terlalu pahit di lidah manusia.
Di sisi lain ku dengar sayup haru, bahwa dunia telah mendekati akhir.
Kebohongan lebih dipilih agar ilusi dunia tidak hancur.

Advertisements