inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah berpulang ke rahmatullah
Pak Sadah, yang biasa pagi-pagi
Pergi ke sawah
Bukan sawah miliknya,
Tapi tidak mengeluh beliau bekerja
Putri-putrinya pergi, setelah tahu aroma lelaki

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah berpulang ke pangkuan Allah
Mbok Sekar, yang dengan terbungkuk
Menggendong kayu bakar
Untuk dijual ke pasar
Walau jarang ada yang beli
Tetap beliau pergi,
Cucu-cucunya dengan lapar menanti

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah mendahului kita
Pak Karman, yang kalau berjalan
Selalu menundukkan pandang
Gubuk dan tanah sepetak miliknya
Telah diambil paksa
Karena utang anak bungsunya
yang suka judi bola, kalah pula

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Subuh tadi, telah meninggal dunia
Bu Sri, dua puluh tahun mengabdi
Menjadi guru honorer
Di salah satu sekolah dasar
Di ujung desa
Dengan gaji yang segitu saja
Untuk makan, harus ngutang
Tanpa pamrih
Senyum manisnya, cerminan harapan
Agar anak kampung memiliki masa depan

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Adalah kabar gembira
Bagi sebagian mereka
Sudah cukup sabar berjalan di dunia
Menjemput janji Allah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s